Dari Garis Equator


Oleh: Tanto Yakobus*


Djunaini KS selaku owner Harian Equator menyikapi surat mosi karyawannya dengan emosional. Empat redakturnya dipecat. Karena dianggap virus yang berujung mosi terhadap dirinya. Peristiwa itu terjadi di hari ketiga lebaran.


TAK ADA YANG BERUBAH malam itu. Cuaca Kota Pontianak tampak cerah, cuma udaranya yang agak terasa panas. Maklum Kota Pontianak dilintasi garis Khatulistiwa. Di kantor redaksi raut wajah teman-teman juga tampak cerah, karena baru saja melewati masa penyucian diri dengan berpuasa sebulan penuh selama Ramadan. Aura kedamaian begitu jelas terpancar dari wajah teman-teman kantor karena masih suasana lebaran. Kami pun bersalaman satu sama lain untuk saling memaafkan, karena itu itu adalah hari ketiga lebaran.

Di luar semua itu, tak seorang pun yang menduga bakal terjadi peristiwa yang amat dramatis di kantor redaksi Equator lantai III Jalan Nusa Indah I nomor B-62 Pontianak Kota. Termasuk ke 32 orang karyawan Harian Equator menandatangani mosi ‘mengugat’ kepemimpinan Djunaini KS di Equator.
Malam jahanam itu, kami semua tidak menduga Djunaini KS selaku owner akan bersikap ‘tega’. Tindakkan itu sungguh diluar perhitungan kami selaku pengagas maupun konseptor mosi dimaksud.
Saya sendiri malam itu masuk seperti biasa. Tidak ada ketegangan sedikitpun di batin saya. Walau suasana kantor menjelang pukul 19.00 WIB sempat gaduh karena Nur Iskandar (Redaktur Pelaksana Harian Equator) yang berusaha ‘menyatukan’ dua kubu yang sama-sama ingin perbaikan manajemen harian reformasi pertama di Kalimantan Barat ini. Mosi kami rupanya tidak sejalan dengan anak daerah yang dimotori saudara Rido Ibnu Syahrie yang baru beberapa hari diangkat jadi redaktur dan Anton Perdana kepala Biro Equator Sanggau.
Berbekal email yang dikirim Dahlan Iskan—CEO Jawa Pos Grup, Djunaini mengusir dan memecat empat redakturnya yang sedang kerja. Selaku owner, lelaki yang populer disapa Bang Jun itu bisa berbuat apa saja. Tapi ia lupa bahwa karyawan adalah asset yang sangat berharga. Sebab untuk menjadikan karyawan profesional butuh biaya yang tidak sedikit dan waktu panjang.
Surat elektronik yang dikirim Dahlan Iskan itu bukannya bikin Bang Jun down, tapi malah membuat kepercayaan dirinya muncul kembali setelah sebelumnya sempat linglung akibat surat mosi yang kami kirim ke Jawa Pos di Surabaya.
Menurut kesaksian Na’en--orang terdekatnya sekaligus office boy di kantor kami, Bang Jun tahu dia dimosi karyawannya justru dari Pak Zainal Muttaqin salah satu pimpinan Jawa Pos di Surabaya. Kabarnya, setelah ditelpon Pak Zainal, ia sempat down. Ia gelisah, pembantu dan orang di rumah jadi sasaran amarahnya.
Ketegangan juga terlihat ketika ia coba menelpon beberapa redaktur--diantaranya Nur Iskandar selaku Redaktur Pelaksana (Redpel), Hairul Mikrad dan beberapa wartawan termasuk wartawati Safitri Rayuni hari itu juga.
Memang mosi itu tidak kami kirim ke Djunaini selaku Dirut dan Pemred Harian Equator, tapi kami kirim melalui kantor pos ke Jawa Pos pada tanggal 5 Oktober 2006 lalu. Kami berharap mosi itu direspon Jawa Pos. Minimal ada peningkatan kesejahteraan karyawan atau setidak-tidaknya penyelesaikan yang bijak serta menguntungkan kedua pihak dalam hal ini pimpinan dan karyawan. Dan itulah tujuan kami sesungguhnya.
Namun diluar dugaan kami, Bang Jun dengan dalih owner menunjukkan sikap ‘ksatria’. Bak serdadu di medan perang menghalau musuh, ia mengusir empat redaktur, yakni Yusriadi, Asriyadi Aleksander, Hairul Mikrad termasuk saya yang saat itu sedang membaca Harian Kompas di meja rapat redaksi. Sementara teman-teman lain masih sibuk proses editing. Sikap ‘tegas’ Bang Jun itu untuk membalas ‘perlawanan’ hampir seluruh awak redaksi yang didukung devisi lainnya terhadap Djunaini selaku Direktur Utama (Dirut) Harian Equator di Pontianak.
Menurut beberapa rekan yang kini masih mengabdi pada Bang Jun, sebetulnya email yang dikirim Pak Bos dari Tiongkok sangat bijak. Tidak ada perintah pemecatan. Malah Dahlan Iskan minta untuk merangkul kembali karyawan yang membuat mosi itu.
Menurut Uray Kamaruzaman, salah satu redaktur yang setia sama Equator, pasca pengusiran empat redakturnya malam itu Bang Jun sempat memperlihatkan email Dahlan Iskan kepada mereka yang masih setia kepadanya di ruang rapat redaksi. Isinya kira-kira begini: “Itu masalah internal, selesaikan sendiri. Rangkul kembali anak-anak itu”.
Namun Bang Jun justru menterjemahkan email itu dengan jalan pikirannya sendiri. Mungkin dibenaknya penyelesaian terbaik, buang orang-orang yang dianggap menyebar “virus”itu!
Atas mosi tersebut, sebetulnya Andreas Harsono sudah mengingatkan kami akan peristiwa terburuk yang bakal kami alami. Dua hari sebelumnya, Andreas bersama Sapariah tunangannya (kini sudah jadi isteri, red) berlebaran ke rumah Bang Jun. Menurut Andreas, Bang Jun akan tega. “Kalian dibuang,” ujar Andreas kepada kami di sebuah warung sembari termenung.
Perkataan Andreas itu terbukti. Jumat malam tanggal 27 Oktober 2006, sekitar pukul 21.00 WIB sekonyong-konyong dari arah tangga tepatnya di antara ruang rapat dan ruang redaksi, Bang Jun muncul dengan nafas ngos-ngosan. Tangan kirinya menjinjing tas hitam, langkahnya tergopoh-gopoh.
Tidak seperti biasanya yang selalu berbasa-basi dengan wartawan atau siapa pun yang dijumpainya setiap memasuki ruang redaksi, tapi malam itu ia berteriak lantang. Saking kerasnya ada wartawan yang gemetaran.
“Saudara Alex! Yusriadi! Dek! Tanto! Berdiri!” Bentaknya.
“Alex, Yusriadi, Dek, Tanto, berdiri! Kantor saya ambil alih! Kemaskan barang kalian, keluar! Keluar!” Bentaknya lagi. Bentakan ia ulang sampai tiga kali, namun kami tidak bergeming dari tempat duduk.
Suara Bang Jun menggelegar, menyita perhatian seluruh isi ruangan. Senyap seketika. Tak seorang pun berani bersuara saat itu, apalagi coba menyela. Tapi di luar dugaan saya, Alex begitu perkasa meladeni Bang Jun. Perang mulut pun terjadi di antara mereka. Bahkan Alex yang biasa saya panggil Tek Lay tidak terima dipecat Bang Jun secara spontan itu, kecuali pemecatan datang langsung dari big boss Jawa Pos Grup, Dahlan Iskan.
Saat sahut menyahut Alex dengan bang Jun, SMS masuk ke hand phone (HP) saya, rupanya Akim takut kalau-kalau saya ngamuk. “Bang pulang jak bang, jangan hiraukan itu,” pesan Akim dalam SMS.
Sadar situasi tidak menguntungkan, saya pilih turun ke bawah. Sambil mengayunkan langkah menuju tangga saya masih mendengarkan teriakan Bang Jun yang langsung menginstruksikan Rido, Anton dan Ova untuk menangani halaman yang kami tinggalkan.
Pikir saya itu instruksi basi, sebab halaman yang saya tangani sudah selesai.
Selain memberi instruksi kepada para ‘pungawa barunya’ bang Jun masih mengeluarkan omelan yang cukup menyakitkan. Ia juga memecat kami secara tidak langsung.
“Tanggalkan atribut kalian, mulai malam ini saudara saya nonaktifkan sampai batas waktu yang tak ditentukan!”
Saya menangkap kalimat itu sudah pemecatan. Kata nonaktif itu hanya masalah waktu. Pun kalau ada niat Bang Jun memanggil saya kerja kami bali, jujur saya katakan saya akan berfikir seribu kali.
Sebagai seorang redaktur yang membawahi beberapa wartawan dan bahkan beberapa Kepala Biro, harga diri saya sudah tidak ada. “Tak mungkin saya mengabdi kepada tuan yang tidak menghargai hambanya”. Jadi tak bedalah dengan Romusa di zaman Belanda dan Rodi di zaman Jepang. “Tuan hanya peduli dengan tenaga dan karyanya saja, sementara karya tidak dihargai sebagaimana mestinya, ujungnya tuan yang kaya dan hamba tetap menderita”.
***


SOAL MOSI SEBETULNYA, ini bukanlah mosi yang pertama, sejak saya bergabung dengan Harian Equator enam tahun silam, sudah dua kali karyawan melayangkan surat mosi terhadap Bang Jun. Bahkan sebelum saya masuk, kabarnya karyawan juga pernah membuat mosi terhadap bos yang sama. Pun hal yang sama pernah dilakukan karyawan Pontianak Post.
Pendek kata, mosi bukanlah barang baru bagi Bang Jun. Ia sudah terbiasa dengan mosi. Bahkan di kesempatan lain ia bertutur dengan karyawan ia sudah terbiasa dengan mosi, maka ketika kami melayangkan mosi dia tidak gentar. Itu masalah kecil.
Menurut saya, ia keliru memperlakukan karyawan yang seharusnya menjadi asset berharga. Karyawan justru disia-siakan dengan perlakuan yang tidak pada tempatnya. Bagaimana pun, karyawan adalah manusia yang punya hati dan perasaan serta butuh penghasilan yang layak pula.
“Bagaimana bisa bekerja dengan tenang, sementara fikiran masih berkutat dengan persoalan ekonomi keluarga? Di tingkat redaktur kami masih berfikir cukup ndak uang sampai akhir bulan? Kalau tak cukup kas bon lagi, kas bon lagi dan kas bon lagi”.
Kurang lebih enam tahun saya mengabdi di Harian Equator, penghasilan saya jauh dari harapan. Terutama dibandingkan jam kerja jurnalis yang butuh waktu dan tidak kenal kerja. Artinya kalau hari hanya 24 jam, kerja wartawan 26 jam.
Giliran honor, ah malu saya beberkan disini. Dari istri saya yang pendidikan SMA sederajat, penghasilannya jauh lebih baik daripada saya.
Harusnya Bang Jun tahu bahwa di dunia ini sudah suatu kelaziman, bahwa baik buruknya kinerja seseorang sedikit banyak ditentukan oleh upah atau imbalan yang diterimanya. Kondisi demikian, secara tak langsung atau memang serba kebetulan selama di Equator saya bekerja sesuai dengan porsi yang saya dapat. Saya tidak pernah ambil pusing dengan kantor. Saya betul-betul menjadi karyawan yang duduk manis. Sikap saya jaga betul agar tidak usil baik terhadap kantor maupun rekan kerja di devisi manapun.
Saya selalu berprinsip bila tidak mengganggu siapa pun, pasti saya juga tidak akan diganggu oleh siapa pun. Dan itulah yang saya pegang selama saya bekerja di Equator.
Seiring dengan perjalanan waktu, ternyata rekan-rekan yang senasib dengan saya tergerak hatinya untuk mencoba memperbaiki nasib dengan cara memperjuangkannya bersama-sama, terutama kami di devisi redaksi.
Memang tidak ada perjuangan yang berjalan mulus seperti rencana. Selalu ada pertentangan baik dari internal maupun eksternal.
Saat merumuskan mosi tersebut, rekan Mutadi yang kini menjadi Redpel sempat berujar, “Percuma kita buat gerakan ini, sama saja dengan membentur kepala ke tembok. Kita semua tahu tembok di depan kita,” ujar Mutadi saat itu.
Artinya, setiap ada upaya perbaikan yang diperjuangkan selalu gagal ketika berhadapan dengan Bang Jun. Setiap rapat yang dirancang untuk membicarakan nasib, mulut terasa terkunci bila Bang Jun hadir di rapat itu.
Karena sudah tercipta anggapan, setiap aspirasi dari bawah tidak akan pernah sampai apalagi mau direspon oleh pimpinan, maka kekesalan dan kekecewaan karyawan terakumulasi. Singkat kata, lahirlah mosi tidak percaya karyawan terhadap pimpinan (Bang Jun).
Catatan saya, mosi tersebut lahir tidak hanya dilatarbelakangi oleh akumulasi kekecewaan saja, tapi banyak faktor; mulai dari kebijakan Bang Jun mem-blacklist sejumlah tokoh tertentu, lembaga tertentu, memperlakukan karyawan lebih sebagai kuli ketimbang asset perusahaan. Selanjutnya memanfaatkan Equator untuk melindungi bisnis putranya, ekspansi ke perkebunan kelapa sawit. Bos boleh bisnis di luar bisnis inti (Equator), sementara karyawan dilarang dengan dalih loyalitas ganda!
Hemat saya, bila Bang Jun mencerna mosi tersebut tidak emosional, kemudian tidak ditambah “kipas-kipas” oleh rekan-rekan karyawan yang kini mengabdi dengan beliau, saya rasa tidak ada korban dalam mosi tersebut. Mungkin endingnya akan manis dan berharga bagi perkembangan dan kemajuan Equator kedepannya.

***


NIAT SAYA PENSIUN di Harian Equator, sirna sudah. Hanya enam tahun (25 Agustus 2001-31 Oktober 2006) umur karier saya di harian yang mulai dikenal dan dicintai masyarakat Kalimatan Barat ini.
Daripada kering dan dahaga—mempertahankan idealisme, keluar dari sistem adalah pilihan terbaik. Itulah yang saya dan teman-teman lakukan. Saya tegaskan keluar dari Harian Equator! Apalagi ada momen pengusiran empat redaktur pada tanggal 27 Oktober 2006 malam itu.
Saya tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Saya tidak sanggup menjadi sasaran kemarahan hanya gara-gara memuat tulisan Indra Nova tentang Akil Mochtar buka puasa bersama masyarakat Melawi. Padahal itu berita biasa, bukan kasus apalagi memojokan pihak lain. Tapi pasca terbitnya artikel pendek itu, saya dimarah habisan-habisan oleh Bang Jun. Saking kerasnya sampai-sampai hand phone saya angkat tinggi-tinggi jauh dari kuping saya.
“Kan sudah aku ingatkan, Akil dalam bentuk apapun jangan lagi dimuat di Equator. Kalian coba main-main dengan aku ya. Apa mau kalian!” gertak Bang Jun melalui HP-nya. Dan masih panjang lagi umpatannya yang tidak enak untuk dituliskan di sini.
Memang dalam praktiknya, idealisme tidak dapat hidup mesra dengan otoriter. Mereka saling bertentangan dan saling mengalahkan. Pilihan saya keluar adalah yang terbaik.
Saya berkeyakinan dengan skil atau kemampuan yang saya miliki, masih ada tempat lain yang bisa menampung saya untuk berkarya lebih baik lagi. Mungkin di situ ada ruang untuk idealisme bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, yang pada akhirnya dapat melahirkan karya jurnalistik yang baik pula. Menurut saya, manusia bolehlah mati, tapi idealisme jangan sampai mati. Dengan demikian lengkaplah pepatah yang mengatakan “gajah mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Sebab idealisme dari karya seseorang mematrikan namanya di ingatan orang lain.
Dengan idealisme akan tumbuh manusia yang punya prinsip hidup dan pendirian yang kukuh. Sebaliknya, orang yang otoriter, akan menangis tua manakala ia tidak punya kuasa lagi. Ia akan kesepian sebab kebenaran telah tergadaikan.

***


Oktober Kelabu


JUMAT, 27 Oktober 2006, saya masuk kantor seperti biasa. Saya sampai di kantor tepat pukul 17.00 WIB. Tidak ada yang berubah, saya langsung larut dalam pekerjaan saya sebagai editor berita para wartawan maupun kiriman dari Biro Melawi, Sintang dan Landak yang saya tangani.
Disamping editing, saya juga masih menarik berita dari FTP Jawa Pos atau yang lebih dikenal dengan istilah JPNN (Jawa Pos Networking News). Berita yang biasa saya tarik mulai dar berita nasional, internasional hingga berita sepakbola dunia.
Usai proses editing berita wartawan dan tinggal menunggu proses layouter, saya masih sempat memperhatikan jam tangan saya menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Tiba-tiba Redaktur Pelaksana (Redpel), Nus Iskandar heboh dan mendatangi redaktur satu per satu seraya mengatakan; “saya akan tanda tangan surat pencabutan mosi,” kata dia sambil mengangkat tinggi-tinggi lembaran surat tandingan yang dibuat oleh Rido cs. Rido adalah redaktur yang baru beberapa hari diangkat setelah hampir tiga tahun bertugas di wilayah Pantai Utara tepatnya Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas. Dan kini menjadi orang kepercayaan Djunaini KS.
Rekan-rekan wartawan tak terkecuali para layouter yang larut dalam pekerjaan terhenti seketika dan pandangan terarah ke Nur Iskandar yang setengah teriak di meja rapat redaksi. Namun ada juga yang tetap asyik dengan pekerjaannya, seakan tak peduli dengan kejadian di sekitarnya.
Dalam hitungan detik, suasana kantor menjadi tegang. Kubu Rido yang dimotori para kepala biro seperti Indra Nova, Anton Perdana, Yuni Kurnianto, Darussalam, Is (sopir) datang ke ruang redaksi hampir bersamaan. Sikap mereka kontra dengan mosi yang kami kirim ke Jawa Pos. Intinya mereka hendak mencabut mosi itu dan tetap mendukung kepemimpinan Bang Jun. Entah apa yang dijanjikan sehingga Rido yang sejak awal bersama kami membuat dan merumuskan mosi seketika berubah.
Tapi kesempatan baik yang difasilitasi Nur Iskandar untuk kumpul mencari jalan terbaik. Ternyata jauh dari harapan Nur. Padahal beberapa saat sebelumnya Nur mengatakan kepada saya, dia tidak ingin ada korban dari aksi ini. Yang saya tahu, dia ingin perubahan terjadi tanpa memakan korban.
Dalam suasana yang masih galau. Nur Iskandar tiba-tiba mengumpul semua karyawan baik wartawan, redaktur, pracetak maupun desain iklan mengadakan rapat mendadak.
“Sekarang ada dua surat; pertama surat mosi yang kita buat untuk Jawa Pos dan sudah dikirim 5 Oktober 2006 lalu. Lalu surat kedua, surat yang dibuat oleh saudara Rido yang didukung para kepala biro juga ditujukan kepada Jawa Pos. Tapi surat kedua ini isinya mendukung sepenuhnya kepemimpinan Bang Jun baik sebagai Pimred, Pimprus maupun Dirut PT Kapuas Media Utama Press,” jelas Nuris—sapaan akrab Nur Iskandar.
Sebetulnya rapat mendadak itu untuk menyatukan pendapat ‘dua kubu’ yang sama-sama ingin perbaikan manajemen Equator. Kelompok mosi yang dimotori Nur Iskandar dan rekan-rekan redaktur sudah melunak dan ingin mencari penyelesaikan terbaik agar tidak ada ‘korban’.
Demikian juga dengan rekan-rekan pracetak maupun desain iklan yang turut menandatangani mosi tersebut. Tapi kelompok yang ‘loyal’ dengan Bang Jun--yang dimotori Rido dan Anton Perdana, tidak mau menunjukkan konsep yang mereka buat. Mereka terkesan angkuh dengan mengeluarkan kata-kata yang kurang enak.
Perkataan yang keras tersebut memancing Zulkifli HZ (desain iklan) angkat bicara. Demikian juga dengan Iwan Siswanto (pracetak) terlibat adu mulut dengan Rido. Melihat itu, saya pun tak tahan dan minta Rido menunjukkan konsep perubahan manajemen versi mereka.
Rido tetap pada pendiriannya. Alasannya, mereka belum rapat, apakah konsep itu boleh diperlihatkan atau tidak. “Kami belum rapat, yang jelas kita sudah beda platform,” hardik Rido kepada saya.
Karena dihardik seperti itu, saya yang merasa lebih tua jelas naik pitam dan mengatakan “Rido apakah kau mau Equator ini karam!”
Ternyata Rido tersinggung dengan pernyataan ‘Equator karam’ itu. Ia pun menghardik saya agar mencabut pernyataan tadi.
Karena sifat saya yang pemaaf, saat itu juga saya mencabut pernyataan saya sambil menyodorkan tangan minta bersalaman dengan Rido.
Tapi Rido menolak niat baik saya. Melihat sikap angkuh Rido itu, saya pun sempat melontarkan pernyataan yang bernada ancaman; “Rido, kau jangan macam-macam, kau cari makan di tanah kami (Kalbar)”.
Mungkin terpikir dengan ucapan saya tadi, beberapa saat kemudian Rido keluar dari ruang pemasaran tempat ia mengetik dan menyalami saya seraya meminta maaf.
Suasana kembali tenang. Rekan-rekan kembali sibuk kerja. Kira-kira setengah jam kemudian muncul orang tak dikenal mencari Muhammad Qadhafi (putra bungsu Bang Jun). Kebetulan orang ‘asing’ tersebut bertanya dengan saya yang tengah baca koran di meja repat redaksi.
“Ada Dafi?” tanyanya.
“Mungkin ada di dalam kali (ruang kerja Qadhafi, red),” jawab saya.
Orang itu lalu masuk. Namun tak begitu lama orang itu keluar keluar kembali. Hanya selang beberapa menit kemudian muncul Bang Jun dan putra sulungnya Mohammad Iqbal. Dia langsung menuju meja rapat redaksi.
Seperti sudah diskenariokan, ia langsung teriak menyabut nama Alex, Yusriadi, Dek Tanto sebanyak tiga kali agar beranjak dari tempat duduknya dan segera meninggalkan kantor. “Mulai malam ini kalian dinonaktifkan sampai waktu yang tidak ditentukan,” hardiknya. Lalu Bang Jun minta Anton, Ova, Darussalam agar menduduki komputer yang selama ini kami pakai.
Bukan hanya itu, ia minta Rido saat itu juga mengambil alih penanganan halaman satu. Pokoknya tugas yang selama ini dibebankan ke Redpel (Nuris) diambilalih Rido.
Jujur, saya hampir tidak percaya dengan kejadian yang menurut saya sangat memalukan itu. Karena pekerjaan saya memang sudah selesai, lagi pula pertimbangkan saran Akim akhirnya saya pilih pulang. Dan Stefanus Akim dalam SMS-nya menyarankan agar saya pulang untuk menenangkan diri. Rupanya Akim sangat ketakutan kalau saya ngamuk.
Di lain kesempatan saya bilang sama Akim, bodoh benar kim bila aku ngamuk di tempat yang jelas tidak menguntungkan. Akim hanya manggut-manggut.
Saking tak percaya dengan kejadian itu, malam itu juga saya masih sempat mengirim pesan singkat lewat SMS kepada Bang Jun yang berbunyi demikian: “Betul saya tandatangani surat mosi, tapi itu bentuk solidaritas saya dengan Redpel. Toh kalau saya dikorbankan tak masalah, terima kasih”.
Dengan SMS itu, saya ingin mempertanyakan keterlibatan saya sehingga saya diteriaki di depan rekan-rekan kerja bahkan sampai dipecat. Sebab selama mosi berjalan saya bukanlah motor penggerak. Tapi saya sangat konsisten dengan tanda tangan saya di surat mosi itu.
Selain itu, saya juga ingin mendapat penjelasan lebih lanjut, apakah saya benar-benar orang yang berbahaya di mata Bang Jun? Apakah saya benar-benar virus yang bisa merusak dan meracuni otak kawan-kawan? Hingga kini saya belum mendapat jawabannya.
Yang saya tahu dari teman-teman sesama pendukung mosi, saya ‘diwisuda’ Bang Jun lantaran bila terjadi pergantian atau pergeseran Redpel saya akan mendukung Asriyadi Aleksander Mering untuk menduduki jabatan tersebut. Masak Allah tidak ada pikiran seperti itu. Kedekatan saya sama Alek semata-mata kebutuhan perut saja. Sebab bila saya ingin makanan favorit saya di rumah makan Akwang, hanya Alek yang bisa saja ajak. Selebihnya tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa yang patut untuk dicurigai.

***


ANDREAS MEMBESARKAN HATI. Tanpa saya duga, ternyata saya jumpa dengan Andreas Harsono dari Pantau bersama Sapariah tunangannya (kini jadi nyonya Andreas) yang juga mantan wartawan Equator. Malam kejadian itu, mereka hendak naik ke lantai III sekedar silaturahmi dengan kami. Maklum ajalah Sapariah yang kini salah satu redaktur di harian milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jurnal Nasional yang terbit di ibukota itu hendak kangen-kangenan dengan mantan rekan-rekan kerjanya. Dan tentunya meja kerjanya, dimana lacinya penuh dengan kaos kaki yang bau menyengat itu.
Tapi langkah mereka berhenti di lantai dasar saat berpapsan dengan saya. Saya sengaja mencegah Andreas naik ke lantai III, karena saya pikir suasananya tidak memungkinkan. Saya pun menceritakan kejadian tadi pada Andreas dan Sapariah. Andreas mafhum dengan kejadian itu.
Sambil memantau situasi, kami pun duduk-duduk di depan kantor DRM yang posisinya persis di depan kantor Equator. Saya cukup banyak cerita maupun menjawab pertanyaan Andreas. Tapi mata saya tetap mengawasi gerak-gerik orang-orang ‘asing’ yang bergerombolan di depan pintu kantor Equator. Namun di antara orang ‘asing’ itu ada yang saya kenal, mantan anggota DPRD Kota Pontianak, Hairun Achmad. Pikir saya, mungkin itu orang suruhan Bang Jun bila terjadi sesuatu di kantor.
Saya bersama rekan-rekan wartawan khususnya media nasional, Hariyo Damardhono (Kompas), Nurul Hayat (Kantor Berita Antara), Muhklis (Majalah Gatra), Yan Andrea Soe (TV7), Bearing (Pontianak Post) dan tentu saja rekan Andreas dan Arie—sapaan akrap Sapariah menyingkir ke warung kopi di kawasan Jalan Gajah Mada. Kami menikmati kopi hingga pukul 03.00 subuh.
Kehadiran Andreas betul-betul membesarkan hati saya. Apalagi malam itu ia menceritakan pengalaman pemecatan dirinya yang jauh sakit dari apa yang kami berempat alami.
“Kamu enak berempat dipecat Tanto, saya dulu di The Jakarta Post dipecat sendirian. Dan itu sangat menyakitkan. Tapi pengalaman itu membuat saya bangkit bahkan bisa belajar journalist sampai ke Amerika,” kata Andreas.
“Kamu dipecat karena memperjuangan kesejahteraan dan perbaikan manajeman, saya dipecat karena melawan Soeharto dengan investigasi dan artikel saya,” ujarnya lagi.
Banyak cerita menarik yang Andreas katakan dengan saya. Mulai dari pengalaman pahitnya hingga rencana pembelaan kami. “Kamu harus melawan Tanto, caranya dengan menulis sebanyak mungkin di milis. Saya yakin kasus ini akan muncul solidaritas dari teman-teman pers se-Indonesia bahkan seluruh dunia,” katanya menghibur.
Tidak hanya itu, Andreas juga berjanji akan membuat tulisan tentang kami di media nasional. “Saya bisa minta TV7 bikin feature tentang kalian, ini menarik,” kata Andreas.
Soal kerjaan jangan dipikirkan, saya akan bantu cari tempat untuk kalian, “Banyak media nasional yang butuh tenaga siap pakai kayak kalian,” yakin Andreas sambil menatap saya.
Sepekan kemudian setelah kembali ke Jakarta, benar berita tentang kami booming di internet. Ada yang mendukung namun ada pula yang mencibirnya.
Dan Andreas sendiri membuat berita tentang kami satu halaman di Harian Jurnal Nasional. Artikel itu diterbitkan pada hari Minggu, 5 November 2006, halaman 22 dengan judul “ Hadiah Lebaran untuk Empat Wartawan”. Artikel itu masih dilengkapi photo kantor Equator dan Bang Jun sendiri.
Selain di Jurnal Nasional, Andreas juga melempar artikel itu ke berbagai milis, termsuk di blogspotnya. Bila anda penasaran silakan kunjungi: www.andreasharsono.blogspot.com.

***



MANAJEMEN KELUARGA. Di mata saya, tipikal Bang Jun orangnya baik. Namun dia jua pribadi yang unik dan susah ditebak. Kadang-kadang tegas, tapi lebih banyak tak mau tau dengan keadaan di kantor. Urusan kantor lebih banyak dikendalikan oleh Redaktur Pelaksana. Sementara si bos cueknya bukan main. Baik karyawan maupun segala fasilitas kantor berjalan apa adanya, tanpa pengawasan maupun kontrol yang ketat. tapi dibilang longgar tidak juga, masih ada campur tangannya.
Padahal seorang pimpinan wajib memberikkan bimbingan, pengawasan terhadap kinerja maupun prestasi bawahannya. Di Equator jejang dan karier tak jelas. Parameter yang digunakan untuk menunjuk atau mengangkat seseorang untuk menduduki jabatan tertentu tak jelas.
Pengangkatan lebih didasarkan pada like and dislike. Faktor suka dan tidak suka inilah yang awal menebarkan benih perpecahan di kalangan karyawan. Jadi penunjukan jabatan bukan didasarkan atas prestasi dan dedikasi yang tinggi pada perusahaan, “Tapi suka-suka aku jak”.
Kondisi lain, soal pengajian. Antara yang sarjana dengan SMA sama saja, apalagi dengan yang doktor? Bahkan Yusriadi yang bergelar dokter dengan masa kerja lebih lama dari saya, gajinya justrus di bawah saya. Kemudian ada beberapa yang hanya tamat SMA dan masih kuliah masuk menggunakan ijazah SMA, gajinya tak jauh beda dengan saya bahkan ada yang lebih.
Kondisi ini membuat hubungan kerja antara karyawan dengan pimpinan tak ubahnya hubungan antara pembantu dengan majikannya. Apalagi arti gelar sarjana bila bosnya saja beranggapan kita semua digaji setara dengan pemegang ijazah SMA atau sederajat.
Akibatnya, ada kesan bahwa beliau kurang menghargai bawahan. Beliau hanya tahu semuanya beres. Seperti majikan akan marah bila rumah tidak beres oleh pembantunya.
Satu hal yang menurut saya kurang elok dimiliki oleh seorang pimpinan, beliau paling senang dengan pujian, sanjungan. Singkat kata asal bapak senang (ABS), termasuklah soal laporan pekerjaan kantor, beliau paling senang terima laporan yang ABS. Maka tak heran, laporan yang masuk ke beliau pun yang ABS termasuk soal karyawan.
Buntut laporan ABS itu, setiap ada rapat evaluasi pemasaran—yang disalahkan bukannya bagian pemasaran yang tak mampu memasarkan koran, tapi redaksi yang menjadi bulan-bulanan.
Bahkan ada guyonan di kantor, setiap rapat evaluasi pasti redaksi selalu dijadikan sayur Bang Jun. bukannya diperlakukan sebagai asset yang berharga. Bukankah dalam penempaannya butuh waktu dan biaya?
Dan fakta itu seakan sudah melegenda dari tahun ke tahun. Kami di divisi redaksi sudah maksimal menggarap berita, tapi selalu salah di mata beliau.
Parameter untuk menilai divisi mana yang bermasalah dan mana yang baik tidak jelas. Pijakan beliau untuk mengevaluasi pastilah ABS tadi.
Singkat cerita, siapa yang pandai bikin laporan maupun bisikan ABS, dia akan menjadi ‘anak emas’” yang tentu saja setiap akhir bulan dompetnya selalu menyembul.
Itu tadi perlakuan terhadap karyawan. Cerita kantor lain lagi. Selama ini kantor tidak diurus dengan manajemen sesungguhnya. Beliau lebih pas dengan manajemen keluarga. Baik yang menyangkut pengambilan keputusan yang penting maupun kebijakan umum.
Hemat saya, manajemen ala keluarga ini juga salah satu penyebab mengapa oplah Equator turun signifikan. Bang Jun hampir tidak bisa membedakan mana urusan Equator dan mana urusan keluarga (bisnis anak dan perkebunan sawitnya).
Tak jarang wartawan dititipi urusan perkebunan maupun proyek terhadap pejabat maupun orang-orang tertentu. Maka tak heran, walau semua devisi di Harian Equator, sudah maksimal meningkatkan oplah, namun selalu terkendala dengan faktor manajemen.

***


Hari Menjelang ‘Penghakiman’


TERNYATA HARI JUMAT, 27 Oktober 2006 malam, adalah hari terakhir saya sebagai wartawan Equator.
Peristiwa menggelikan itu betul-betul di luar perkiraan saya. Walau tiga hari sebelumnya ketika menunggu anak terbaring sakit di Rumah Sakit Santo Antonius (RSSA), saya sudah memprediksi hal terburuk sekalipun soal masa depan saya di harian Equator—terkait surat mosi terhadap Bang Jun yang kami kirim ke Jawa Pos pada 5 Oktober 2006.
Sebetulnya mosi tersebut langkah terakhir yang kami tempuh dalam tuntutan memperbaiki manajemen Harian Equator. Sebelumnya ada upaya dialog dengan Djunaini, namun hanya orang-orang tertentu saja yang dipanggil menghadap.
Jelas “orang-orang pilihan” itu tidak bisa mewakili aspirasi kami secara keseluruhan. Porsi mereka terbatas, walau ada niat berjuang tapi kalah dengan gertakan Djunaini.
Akhirnya pertemuan itu menghasilkan kesepakatan di mulut saja. Yang tampak wujudnya hanya genset—yang selama ini menjadi keluhan kami akibat pemadaman listrik yang sudah keterlaluan itu.
Dua pekan setelah pembelian genset, teman-teman redaktur plus Fakun—Kabag Pracetak melakukan pertemuan secara intensif.
Oh ya, pertemuan intensif yang kami lakukan itu bermula dari terbitnya tulisan Dr Yusriadi—rekan redaktur yang mengupas soal pemilihan Gubernur Kalbar tahun 2007.
Rupanya naskah itu tidak berkenan di hati Bang Jun. Ia marah besar dengan Nur Iskandar. Bukan hanya itu, dia juga lansung menelepon Yusriadi mempersoalkan hal yang sama.
Buntutnya, hari itu juga Nur Iskandar tidak masuk kantor. Yusriadi juga tak masuk sehari kemudian, kami para redaktur mengambil inisiatif bersama Fakun bicara dengan Nur Iskandar.
Dua hari sebelumnya Fakun juga tidak masuk karena alasan tak bisa kerja optimal gara-gara listrik sering padam akibat tak ada genset.
Kami intensif melakukan pertemuan, mulai dari rumah Nur Iskandar sampai beberapa kali rapat di Kafe Alun-Alun Kapuas.
Intinya, pertemuan yang kami lakukan itu membahas strategi menghadapi Bang Jun demi untuk menyelamatkan perusahaan.
Kami ingin perubahan manajemen yang selama ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Maka lahirlah mosi yang berisi 9 point itu yang kami kirim ke Zainal Mutaqqin di Jawa Pos Surabaya.
Setelah mosi itu terkirim, secara pribadi saya mempersiapkan diri. Pikir saya waktu itu, pasti ada konsekuensi dari mosi tersebut. Saya sudah membayangkan akan terlempar dari Equator. Saya pun mempersiapkan mental anak dan istri, jangan sampai mereka kaget saya tiba-tiba kehilangan pekerjaan.
Dan kebetulan sebelum Idul Fitri, Andreas Harsono mudik bersama Sapariah ke Pontianak. Saya pikir itu kesempatan baik memberi pengertian dengan istri. Maka pada lebaran kedua, saya menghubungi Sapariah hendak berlebaran ke rumahnya. Sorenya saya pun memboyong dua anak dan istri saya ke rumah Sapariah.
Di situ saya disambut ramah Sapariah dan Andreas. Sesaat setelah duduk, Andreas seperti paham dengan kedatangan saya bersama keluarga. Andreas pun secara gamblang menceritakan kasus yang kami alami di Equator versus Djunaini.
Andreas langsung membahas Equator. Dia katakan sudah bertemu Bos Jun. Menurut Andreas, Djunaini selaku owner akan tega. “Kalian akan dia lepas,” kata Andreas.
Saya lihat istri saya semakin paham dengan posisi saya setelah mendengar penjelasan Andreas. Kebetulnya selain tahu dari Alek dan Nus Iskandar, Andreas tahu langsung dari Djunaini saat leberan ke rumahnya tanggal 24 Oktober 2006.
Jadi sebelum didepak Djunaini KS dari Equator, secara pribadi saya sudah mempersiapkan mental keluarga saya.
Seritanya bermula dari kegiatan saya semakin sibuk akhir-akhir ini. Bahkan isteri saya sempat mempertanyakan kegiatan saya di kantor. Maklum saat merancang mosi tersebut intensitas kami para redaktur untuk bertemu sangat tinggi.
Hari-hari hampir saya habiskan bersama teman-teman kantor untuk melakukan pertemuan dalam rangka pembahasan khusus mosi tersebut. Mulai dari pembicaraan strategi hingga resiko apa yang bakal terjadi. Setidaknya sedikit demi sedikit kita sudah mempertimbangkan residunya.
Setelah kejadian Bang Fakun mulai tidak masuk kantor gara-gara persoalan genset yang tak pernah kelar, hingga Nuris juga mengambil langkah yang sama. Daripada kerjaan terganggu gara-gara satu dua orang tak masuk, kami para redaktur yang masih ngantor omong-omong, bagus kita diskusikan. “Tak ada cara lain selain kita diskusi, mungkin disitu ada jalan keluarnya,” cetus Alex kala itu.
Ide Alex ditanggapi serius oleh saya dan Mutadi. Kami pun mulai menghubungkan Bang Fakun, Nuris untuk membicarakan masa depan kami khususnya dan Equator umumnya.
Belajar dari mosi terdahulu yang galang almarhum Andi Muzzamil yang gagal, kami bersepakat mosi itu tidak lagi disampaikan ke Bang Jun selaku pimpinan, tapi langsung kirim ke Jawa Pos. karena pengalaman saudara tua kami di Pontianak Post, orang Jawa Pos sampai datang terkait masalah internal di Pontianak Post.
Tak berlebihan, target kami juga demikian. Kami ingin dialog yang dihadiri atau ditengahi oleh perwakilan dari Jawa Pos. itulah salah satu alasan kami mengapa kami kirim mosi tak percaya dengan Bang Jun justru ke Jawa Pos dan bukan kepada Bang Jun langsung.
Selain di warung kopi dan warung pojok, kami kerap mendiskusikan mosi itu di Kafe Alun-Alun Kapuas. Kami pilih kafe itu selain tempatnya steril, juga tidak terlalu jauh dari kantor. Sebab sejak awal kami bertekad menguasai kantor. Alasannya logis, karena mosi itu didukung lebih separoh karyawan Equator.
“Apa pun yang terjadi, kantor harus kita kuasai. Itu strategi untuk memenangkan peperangan,” ujar Nuris pada suatu kesempatan.
Dalam setiap pertemuan, Nuris memposisikan diri sama dengan kami. Walau secara hirarki ia atasan kami, tapi dalam diskusi ia selalu minta rekan-rekan meminpin diskusi secara bergantian. Termasuk saat merumuskan apa saja yang akan menjadi materi mosi, kami lakukan secara bersama-sama. Bahkan untuk pertimbangan hukumnya kami serahkan kepada Mutadi sebagai konseptornya.
Setelah konsep jadi kami membagi tugas untuk mengalang tanda tangan kepada para karyawan. Di divisi redakdi dilakukan langsung oleh Nuris dan dibantu Alex, sedangkan untuk divisi lain seperti iklan, pemasaran, pracetak dan keuangan kami serahkan kepada Bang Fakun. Pertimbangannya, selain faktor senioritas, sosok Bang Fakun disegani dan dipercaya para karyawan.
Saat gencar melakukan pengalangan tanda tangan, kami lupa melibatkan para kepala biro yang tersebar di seluruh kabupaten/ kota se-Kalbar. Asalannya simpel sekali, mosi itu harus cepat karena inilah moment yang tepat. Bila harus menunggu tanda tangan kepala biro, moment akan lewat dan basi. Maka para kepala biro kami beritahukan secara lisan saja. Termasuk saya kebagian untuk mengimformasikan perkembangan mosi itu kepada kepada Biro Melawi, Indra Nova, Biro Sintang Hamka dan Jumadi di Biro Landak.
Selain pertemuan di rumah Bang Fakun, kami juga masih sempat menyempurnakan mosi itu di rumah Nuris sekaligus buka puasa bersama. Maklum saat itu bulan Ramadan. Saat di rumah Nuris itulah Mutadi menegaskan rekan-rekan agar jangan ragu-ragu. “Jangan ada solidaritas kacangan,” ujarnya sambil menikmati menu buka puasa nasi kotak dan minuman segar dari sari buah-buahan.
Rido juga hadir dengan peci di kepala. Saya sempat menghisap rokoknya hanya sekedar untuk mengusir nyamuk. Agak lama kami bercengkrama di rumah Nuris sambil menikmati buah kurma dan langsat Punggur.
Menjelang akhir bulan puasa, rekan-rekan di biro izin mudik ke Pontianak untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga masing-masing. Kepada saya Anton dan Indra Nova mengaku akan merayakan lebaran di Sambas.
Ternyata itu hanya alibi semata. Mereka sudah menyusun rencana. Diam-diam Rido nyusup dan membocorkan setiap pertemuan kami kepada Anton maupun Indra Nova. Rido yang didukung sepenuhnya oleh Ramdan, yang tak lain mantan anak didiknya di Biro Singkawang juga menyusun strategi ketemu Bang Jun.
Rupanya dia besar kepala setelah ditunjuk Bang Jun untuk menangani halaman pro otonomi menggantikan Yusriadi—yang dinilai bos terlalu mengutamakan berita pesanan ketimbang memblacklis orang tersebut.
Satu dua kali pertemuan Rido mulai mankir. Alasan klasik, sakit! Nuris berinisiatif menelpon Rido, jawabnya sakit punggung karena ada penyempitan di tulang ekor. “Ah itu alibi semata, buktinya setelah kami lengser Rido tetap segar bugar tak ada lagi keluhan saraf terjepit?”. “Amit-amit itu doa kau sendiri Do”.
Singkat cerita, mosi sudah dikirim ke Jawa Pos lewat kantor pos tertanggal 5 Oktober 2006. Karena hari itu adalah hari terakhir puasa, Yusriadi mengundang kami semua untuk buka puasa di rumahnya sekaligus membicarakan ekses pasca pengiriman mosi ke Jawa Pos.
Berbagai arguman atau spekulasi yang kami lontarkan. Apa yang bakal dilakukan bos bila ia tahu mosi itu. Memang tak satu pun yang bisa menebaknya, semua dugaan kami meleset.
Di rumah Yusriadi itu, saya sempat mengirim SMS sama Anton dan Indra Nova agar turut hadir di acara buka puasa itu. Tapi keduanya menjawab lagi menuju Sambas mengantar keluarga.
Ketika saya mengimformasikan soal mosi, apa sikap mereka. Indra Nova justru meminta supaya jangan dipolitisir. Apa yang mau dipolitisir? “Saya lagi ngantar keluarga ke Sambas. Soal ini jangan terlalu dipolitisirlah bos,” bunyi SMS membalas SMS saya.
Setali tiga uang dengan Indra Nova, Anton juga mengaku di Sambas. Ketika saya konfrontir lagi, Anton mengaku ia di Pemangkat dan Ova—sebutan Indra Nova di tempat keluarganya di Sambas. “Oh ndak sama, saye same kakak di Pemangkat Ova same keluargenye di Sambas,” balas Anton dalam SMS-nya.
Persetan dengan keduanya, kami di rumah Yusriadi serius membicarakan mosi tersebut. Mulai dari Mutadi yang memberi tanggapan. “Teman-teman kita disini jangan ada solidaritas kacangan. Saya secara pribadi sangat konsisten dengan apa yang telah saya tanda tangani. Tapi tolong hormati juga provasi saya,” tegas Mutadi.
Yang mengagetkan saya justru pernyataan Rido. Dengan nada tinggi dia mengatakan “kita beda flatfon”. Eh apa yang dia maksud dengan flatfon itu, apakah material untuk bahan bangunan? Entahlah, faktanya itulah yang mengalir dari mulut Rido. Bahkan ia menentang sikap kami yang sudah mengkerujut. Parahnya, ia menarik keterlibatannya. Ia menyangkal semua perbuatan yang sudah tercurah dalam mosi itu, karena sudah beda flatfon tadi. Pikir saya edan benar redaktur baru ini, tapi saya tidak tahu alasan sakit itu dimanfaatnya untuk mengalang kekuatan mematahkan perjuangan kami.
Didukung Darusallam kepada Biro Ketapang dan Yuni Kurnianto kepada Biro Sambas, mereka mempertanyakan tujuan mosi kami, termasuk dasar hukumnya. Apa yang salah dengan Equator, menurut Salam ia tidak menemukan sedikitpun kekuangan apalagi kesalahan Djunaini KS di Equator. “Baiknya tinjau ulang lagi mosi itu, posisi kita lemah, Djunaini KS pemilik Equator dan kita mencari makan dengannya,” kata Salam.
Yuni menimpal, karena sejak awal dia tak tahu, dia minta jangan dilibatkan. “Itu biar abang-abang jak, sebaiknya kami di biro jangan dilibatkan. Karena sejak awal kami tidak tahu,” kata Yun.
Perdebatan demi perdebatan berlanjut sampai usai buka puasa. Kesempatan itu saya tegaskan, saya bukan tipe orang yang plin plan. Saya konsisten dengan tanda tangan saya. Secara pribadi saya mengalami ketidak adilan di Equator.
Mulai dari gaji, antara saya dengan Dek perbedaannya jauh sekali. Demikian juga antara saya dengan Yusriadi. Masa kerja Yusriadi yang jauh lebih lama dari saya, gajinya justru kecil dibandingkan saja. Lalu Dek yang pengalamannya jauh dibawah saya, tapi gajinya jauh lebih besar dari saya.
Saya katakan pada teman-teman saat itu, apa indikator yang dipakai Bang Jun untuk menentukan gaji kita. Semua tidak jelas, dasarnya atas suka dan tidak suka aja. Belum lagi soal lain, banyak yang tidak beres, termasuk kata-kata kebun binatang sangat akrap di bibirnya.
Saya juga sempat menanggapi ‘kemakmuran’ yang dirasakan Darusallam. Kemakmuran seperti apa? Memang betul sejak awal masuk kami digaji Rp 400 ribu saja dan kini jauh lebih baik. Tapi Salam lupa soal SK organiknya yang tak jelas, kemudian bironya yang terkatung-katung. Cukupkah bagi Darusallam dengann penghasilan Rp 1,3 juta untuk menghidupi isteri dan anak-anaknya? Itu anak belum sekolah, bagaimana bila sekolah kelak? Apa itu maksud menurut Salam?
Jangan mimpi ah, betul kita terima gaji dari Equator, tapi bukan dari pribadi Bang Jun. perlu diingat, gaji yang kita terima itu hasil jerih payah kita sendiri. Kalau mau jujur saya katakan dengan Salam, per tahun berapa miliar penghasilan kita, harusnya dengan pendapatan kantor yang besar penghasilan kita juga mengalami perbaikan. Tapi apa lacur, selain disetor ke Jawa Pos, bos sangat ambisius membangun Graha Pena Equator. Menurut hemat saya, Equator belum cukup mampu membangun kantor semegah itu dalam suasana keuangan perusahaan tetap sehat.
Mengapa tidak menggunakan salah satu raungan atau lantai di Graha Pena Pontianak Post saja? Aneh dalam grup Jawa Pos di seluruh Indonesia hanya di Pontianak yang ada dua Graha Penanya. Ada apa? Bukankah pada akhirnya karyawan jadi korban ambisius pemiliknya?
Adu opini di rumah Yusriadi itu tanpa ada kesimpulan. Walau intonasinya turun, mereka Rido tetap menggalang kekuatan. Sepulang dari rumah Yusriadi, mereka mulai bergerilya melobi dan merecoki para wartawan dengan konsep mereka.
Menurut Jumat, dua hari sebelum lebaran ia ditelepon Anton segera turun ke Pontianak untuk merumuskan program biro yang pernah dibicarakan di Landak beberapa waktu sebelumnya. “Karena panggilan itu tanpa curiga saya ke Pontianak dan memang di biro kami sudah buat program perbaikan biro. Tapi saya sempat nunda keberangkatan saya,” kata Jumadi.
Tapi subuhnya sekitar pukul 03.00 Anton nelpon lagi, dia bilang suasana genting, segera ke turun.
Mendapat telepon mendadak seperti itu saya tidak sertamerta turun ke Pontianak. Saya berangkat sekitar jam 10 pakai bis dari Ngabang. Sampai di Siantan saya ditelepon lagi agar langsung ke rumah Rido di daerah Ampera. “Saya sempat bingung, Ampera itu daerah mana,” kata Jumadi saat kami ngopi di salah satu kafe Jalan Sutoyo.
Menjelang sore, saya sampai di rumah Rido. Disitu sudah ada enam orang, mereka adalah Anton Perdana, Indra Nova, Darussalam, Yuni Kunianto, Ramdan, Rido. Kepada saya mereka mengatakan suasana kantor sudah sangat genting. “Kita harus selamatkan kantor,” kata Jumadi menyetir perkataan Rido.
Tanpa sempat saya membaca konsep yang mereka sodorkan, saya diminta segera menandatangani sebuah naskah kira-kira dua halaman kwarto. Rido selaku juru bicara dan tuan rumah langsung menjelaskan secara singkat kronologis sehingga ada pertemuan itu.
Menurut Rido, mereka sudah dua kali ketemu Bos (Bang Jun) membicarakan konsep yang akan mereka lakukan. Pertemuan pertema di hotel Merpati dan pertemuan kedua di rumah Bos langsung.
Intinya dalam pertemuan itu Bos menginstruksikan agar Rido cs membuat dukungan terhadap dirinya dan memcabut mosi yang sudah dikirim ke Jawa Pos itu. “Pokoknya untuk mengkanter apa yang telah abang-abang buah itu,” jelas Jumadi yang kental dengan khas Melawi.
Menurut Jumadi, sebetulnya konsep yang dibuat biro sangat bagus dan Akim salah satu konseptornya. Tuntutannya tidak muluk-muluk, tapi bagaimana supaya operasional biro bisa jalan. Artinya tugas berat yang dibebankan ke biro dibarengi dengan pemasukan yang baik pula. Selama ini biro selalu nonbok pengeluaran yang tidak terduga. Ketika diklaim ke kantor pusat, selalu mentah. Agar tidak ada lagi klaim yang mencurigakan kita membuat konsep untuk pegangan semua biro.
Mulai dari pemberitaan dalam hal ini liputan, pemasaran maupun iklan. Semua bisa tertangani dengan baik. Kesan selama ini biro hanya urus berita, iklan dan pemasaran sambil lewat saja. Kedepan kita mau dianggarkan dan masuk operasional biro.
Tapi kejadian di rumah Rido itu sungguh diluar perkiraan saya. Abis tanda tangan saya langsung pulang ke Ngabang dan tidak tahu perkembangannya lagi. Sebagain sikap protes saya, saya sempat menghilang tanpa mengabarkan kantor. Saya kira saya sudah dibuang. Eh nyatanya Bang Rosadi sempat tiga kali ke Ngabang mencari saya. Tapi saya ada di Karangan. Kemudian Bang Mutadi sendiri sempat mengirim SMS dengan saya agar bekerja dengan baik. Dia minta tunjukan kinerja yang bagus.
Lalu bagaimana Rido cs merancang pertemuan dengan Bang Jun? Setelah Pak Zainal mempertanyakan kepada Bang Jun soal mosi itu, Bang Jun berinisiatif menghubungi Rido dan Anton agar menghubungi orang-orang yang masih ‘bersih’ untuk bertemu dirinya. Tempatnya terserah. Anton mengusulkan di hotel saja agar lebih leluasa.
Pertemuan pertama mereka lakukann di hotel Merpati. Dalam pertemuan itu hadir Rido sebagai koordinator, Anton, Indra Nova, Ramdan, Yuni Kurnianto dan Darussalam. Pertemuan dipimpin Rido. Karena ikut pertemuan sejak awal dengan rekan-rekan pembuat mosi, Rido jelas tahu secara mendetail soal mosi itu. Sangat kronologis, mulai dari awal hingga mosi itu melayang ke Surabaya.
Rido lebih banyak mengendalikan pertemuan itu, sedangkan Bang Jun yang didampingi dua puteranya Iqbal dan Qadhafi lebih sebagai pendengar. Namun sekali-sekali menyela pembicaraan mereka. Bang Jun sangat terpukul dengan mosi itu, terlebih ia dongkol dengan rekan-rekan konseptor mosi.
Namun yang juga berkembang dalam pertemuan Merpati itu, dibahas suksesi Redpel. Analis mereka, yang bakal naik jadi Redpel adalah Asriyadi Aleksander. Untuk menghambat langkah Alex tak ada jalan lain selain menyingkirkan dirinya. Mosi itu merupakan salah satu langkah Alex ke kursi Redpel. Sedangkan Nuris hanya dijadikan boneka alias diperalat oleh Alex dan kawan-kawan.
Selain Alex, target berikut yang akan disingkirkan adalah Yusriadi. Yusriadi dianggap otak dari semuanya, dia juga dituduh sebagai tim sukses HM Akil Mochtar yang akan bertarung dalam Pilkada Kalbar.
Selanjutnya Hairul Mikrad. Pria tambun yang akrab disapa Dek itu masuk target mereka karena akumulasi kebencian rekan-rekan di daerah. Dia dianggap obral bicara, hal hal sepele dia tak segan-segan memarahi anak daerah. Kebencian itu terutama datang dari Anton dan Indra Nova.
Lalu Nur Iskandar. Lelaki taat beribadah ini dianggap tidak bisa memimpin dan cenderung mendengarkan apa kata Alex dan kawan-kawan redaktur. Kasarnya ia tak sadar dijadikan boneka.
Selanjutnya saya sendiri karena punya ‘dosa’ menerbitkan berita kegitan Akil terutama di Kabupaten Pontianak dan Melawi. Saya dicap orang yang tak bisa diatur oleh kebijakan manajemen. ‘Dosa’ lain, saya dianggap orang yang akan memuluskan langkah Alex jadi Redpel dan Mutadi yang secara karier layak jadi Redpel bakal terdepak.
Sebetulnya mereka sendiri agak sulit mencari ‘dosa-sosa’ saya. Itu dibenarkan Jumadi dan Pronk Widiasunu yang bertandang ke rumah saya sehari setelah kejadian itu.
Menurut Pronk, dua hari sebelum kejadian ia sudah mengikuti perkembangan itu. Bos Jun kata Pronk tidak pernah menyebut nama Bang Tanto, tapi kalau Alex dan Yusriadi memang dari bos langsung. Nama abang diusulkan Rido dan Dek diusulkan anak-anak daerah.
Masih kata Pronk malam ‘eksekusi’ itu dirinya kebagian tugas mengamankan mobil bos. Bahkan dua hari sebelumnya ia dipercaya membawa mobil bos. “Sesuka sayalah bawa mobil bos kemana-mana malam itu. Cari makan yuk…cari,” cerita Pronk di teras depan rumah saya sambil memperagakan bagaimana bos melempar uang untuk mereka.
Kesaksian Pronk, selama menyopiri bos hati kecilnya keberatan dengan peristiwa itu. Tapi mau apalagi daripada dia yang tersingkir lebih baik menyingkirkan lawan lebih dulu. “Itu diucapkan bos langsung,” kata Pronk yang saat itu mengenakan kaos oblong kuning, celana panjang jeans dan sepatu ket.
Pronk sempat membujuk saya agar menemui Bang Jun di rumahnya. Tapi agak kasar saya tolak saran Pronk. Dalam hati kecil saya tak mungkin saya datang ke rumah Bang Jun untuk kedua kalinya. Dulu kedatangan saya disambut manis, kini kondisinya sudah beda Pronk, gumam saya dalam hati.
Selain menceritakan kondisi yang dia tahu, Pronk juga mengklarifiksi posisi dirinya yang malam itu secara tak langsung ketangkap mata saya sedang membawa mobil Bang Jun. Dia ingin menjelaskan bahwa dia tidak terlibat. Bisa membawa mobil bos karena sebelumnya sudah kenal bos lewat anak-anaknya, terutama saat masih hura-hura di dunia malam.
Abis cerita Pronk menenggak segelas teh yang isteri saya suguhkan lalu pamit hendak pulang ke Sanggau. Tanpa ekspresi saya pun melepas kepergian Pronk.

***







Klarifikasi Djunaini KS

TIGA HARI PASCA PENGUSIRAN ITU, saya, Alex, Dek, Yusriadi dan Nuris (Nuris malam kejadian itu tidak diusir Bang Jun, tapi ia memilih bersama kami berempat) menghadap Bang Jun di kantor redaksi lantai III kompleks Ruko Jalan Nusa Indah I nomor B-62.
Kedatangan kami itu memang sudah kami rencanakan. Tujuannya selain minta klarifikasi, kami ingin pamitan dengan Bang Jun. Karena sudah terlanjur diusir, kami pilih hengkang saja.
Tanggal 30 Oktober 2006 siang di kantor Suwito (Suwito adalah Penasehat Hukum Harian Equator). Atas saran mbak Dwi—salah seorang rekan pengacara di kantor Suwito menyarankan agar kami ketemu dulu dengan Bang Jun.
Memang keberadaan kami di kantor pengacara kondang di Pontanak itu dalam rangka konsultasi. Kami berencana membawa kasus ini ke meja hijau. Mungkin kapasitas sebagai PH Equator sekaligus teman kami, Dwi menyarankan sebaiknya kami ketemu Bang Jun.
“Itukan sifatnya emosional, kalian datang saja mempertanyakan sampai kapan status nonaktif itu? Kalau bisa ketemu dulukan lebih baik,” saran Dwi kepada kami.
Saran pengacara berbakat itu langsung kami aminkan. Saya mengambil inisiatif menelpon Bang Jun ke hand phonenya.
“Halo” jawab dari seberang.
“Tanto bang, saya minta maaflah tak bisa lebaran ke rumah anak saya masuk rumah sakit. Tapi sekarang sudah pulang. Ini bang soal kejadian malam itu. Kami bermaksud ketemu abang”.
“Ah lupakanlah semua itu, itulah kalian kalau bertindak itu harus dipikirkan dulu,” sehutnya dari seberang.
“Rencananya malam ini kami ketemu abang, tempat dimana?”
“Di kantor aja, datanglah kira-kira jam 10 kan agak lengang kerjaan,” katanya lagi.
“Oke bang, malam kami berlima datang, terima kasih,” saya menutup hand phone saya.
Menunggu jam 10, kami pulang mandi. Bahkan sempat ngopi di warkop kawasan pertigaan Jalan Alianyang. Jam menunjukan pukul 21.30 WIB, kami berlima meluncur ke kantor Equator.
Tiga di lantai III, ruang kantor lengang. Sebagian besar wartawan sudah pulang. Hanya ada satu dua yang tersisa, termasuk para redaktur “dadakan” dan bagian pracetak yang masih sibuk dengan kerjaannya.
Saya melihat mereka kaget dengan kedatangan kami yang secara tiba-tiba itu. Ada yang pura-pura tak tau, masa bodoh. Namun ada pula yang tersipu malu menyalami kami. Saya melihat Ramdan tergopoh-gopoh menyalami Nuris. Rosadi pura-pura tak tau.
“Eh choi apa gak kabar,” sapa Mutadi kepada saya.
“Baik,” saya balas singkat.
“Ada bos?”
“Kayaknya Ada,” kata Mutadi lagi.
Nuris duluan masuk ruang kerja Bang Jun. Lalu Yusriadi, Dek, Alex dan saya masuk sambil membawa kursi.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, Bang Jun menyapa kami santai. Kami pun menjawabnya santai pula. “Yah beginilah, alhamdullilah semua berjalan lancer. Anak-anak bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat,” kata Bang Jun.
Kami pun mendengar sambil mata tertuju ke seluruh sudut-sudut ruangan yang hanya berukuran 2 x 4 meter itu. Posisi meja kerja Bang Jun sekaligus dijadikan meja saat menerima tamu.
Walau di matanya tampak kesedihan dan penyesalan, namun Bang Jun berusaha tetap tegar menghadapi kami. Beliau berusaha tampil seperti biasa dengan guyonan khasnya. Ia lebih banyak bicara yang tidak ada hubungan dengan persoalan kantor, pokoknya diluar konteks.
Karena sudah ngaur ngidul dan ngelantur, Nuris memotong cerita Bang Jun. “Maksud kedatangan kami bos, kami minta maaf sekaligus minta klarifikasi bos terhadap kami,” kata Nuris memulai pembicaraan.
“Ya-lah, kalian sudah saya anggap sebagai anak sendiri,” jawab Bang Jun singkat seraya tertegun memandangi kami satu persatu.
Setelah berbasa-basi maksud kedatangan kami, Bang Jun lalu bertanya kepada kami satu persatu, “Apakah masih ingin tinggal dan mengabdi di Equator atau mengambil sikap lain?” ia pun bertanya searah jarum jam.
Yusriadi mendapat giliran pertama. Ia menyatakan keluar dan akan mencurahkan perhatian sepenuhnya di STAIN sebagai dosen. Namun Yusriadi masih penasaran apa kesalahannya. Ia pun bertanya langsung dengan Bang Jun.
Tapi Bang Jun secara diplomatis menjawabnya. Ia memberi kebebasan yang seluas-luasnya kepada para redaktur. Namun kebebasan itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Jawabannya ngambang. Ia juga menyangkal tidak pernah bikin kebijakan untuk memblacklis sejumlah tokoh tertentu.
“Tidak ada diskriminasi dan sektarian di sini. Buktinya tadi ada berita Akil naik. Secara pribadi saya tidak ada masalah dengan Akil. Demikian juga dengan Cornelis, siapa bilang saya anti Dayak. Abang saya sendiri kawin dengan Dayak dan anak-anaknya sering di rumah,” kata Bang Jun.
Nuris juga menyatakan kerjasama dengan Bang Jun telah berakhir, dan akan mencoba mengasah kemampuannya sebagai penulis. Saya sendiri juga keluar dan akan merawat kebun di Punggur disamping mencoba menulis buku.
“Terima kasih atas bimbingan dan kesempatan yang selama ini abang percayakan kepada saya. Bagi saya kepercayaan itu amanah. Saya juga tidak merasa sakit hati sedikit pun, karena abang sudah saya anggap orang tua sendiri,” kata Nur.
Mendengar ucapan Nur itu, saya lihat wajah Bang Jun berat. Matanya tampak berlinang air mata.
Ia pun sempat meraih tisu yang ada di box atas mejanya dan menyeka air matanya.
“Saya tidak dapat menahan kalian. Keputusan itu sifatnya sangat pribagi dan itu bagi kalian mungkin pilihan terbaik,” kata Bang Jun dengan intonasi suara agak melemah.
“Saya sebetulnya banyak berharap dengan kamu Nur, sudah berkali-kali saya katakan peralihan Pemred itu tinggal menunggu waktu. Tak mungkin saya menjadi Pemred seumur hidup dan itu tidak sehat”.
“Saya sudah merencanakan pergantian Pemred itu setelah kantor kita jadi. Di benak saya tidak ada lagi pilihan lain, kamulah Nur orangnya,” katanya terbata-bata.
“Terima kasih kepercayaan itu, saya tidak akan melupakannya,” timpal Nuris.
“Tanto, kamu bagaimana? Dulu sampai saya suruh datang ke rumah. Saya juga mendengar tentang kamu dari Aju dan teman-teman lainnya. Sedikit pun tak ada keraguan saya soal kamu, tapi pilihan tetap pada dirimu,” katanya datar.
“Sebelumnya saya mohon maaf, terutama selama saya bekerja di Equator mungkin ada perbuatan maupun tutur kata saya yang kurang berkenen, saya mohon dimaafkan”.
“Ya, saya maafkan,” jawabnya spontan seraya melanjutkan, apa rencana mu selanjutnya?
“Saya akan membuka pabrik sagu di Punggur, kebetulan ada kebun jeruk saya di sana.
“Kamu Lex, apa rencana kamu”.
“Setelah kejadian yang memalukan itu, saya tegaskan keluar. Saya ingin menjadi penulis lepas atau freelance”.
Selain itu saya juga masih ingin mendalami kemampuan bahasa Inggris saya. Sebab cita-cita saya akan menjadi penulis yang bisa melanglang buana di jagat ini.
Selanjutnya bagaimana kamu Dek?
“Saya terima kasih bos telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya disini. Mungkin apa yang sudah saya perbuat masih kurang, saya mohon maaf. Rencana saya kedepan saya akan coba fokus membantu orang tua merawat kebun sayur di Sungai Pinyuh,” jawab Dek.
Lalu Nuris menimpal pembicaraan itu seraya mengatakan kami semua minta maaf dengan Bang Jun dan menyatakan tindakan kami itu mungkin keliru. Kata maaf juga meluncur dari mulut Bang Jun seraya menegaskan dirinya tidak pernah berniat untuk memecat kami.
Dia pun menyucikan diri bahwa dalam hidupnya tidak pernah memecat siapa pun. Skorsing itu kata Bang Jun, tak lain adalah pelajaran bagi kami sampai kami menyadari kesalahan kami. Dia pun sempat mempersoalkan pemecatan terhadap Dian Sastra—yang selama ini menangani halaman kriminal dan terakhir halaman Sintang Raya dan rubrik investigasi.
Bang Jun mengesalkan tindakan Dewan Redaksi yang memberi sanksi pemecatan terhadap Dian Sastra. “Bagaimana pun dia juga manusia yang bisa salah. Kalian mungkin tidak pernah berpikir ia punya tanggungan anak isteri,” gumamnya.
Tapi kami bukanlah anak kecil merengek minta dikasih permen lalu tertawa. Cara Bang Jun yang “mewisuda” kami di depan rekan-rekan sekerja itu sangatlah berharga kami kami. Itu pengalaman yang luar biasa! Bahkan itu pula yang memotivasi kami untuk tetap tegar dan bangkit dengan mendirikan media sendiri.
Klarifikasi dan permintaan maaf Bang Jun kami terima. Tapi dalam kesempatan itu Nuris juga menegaskan agar Bang Jun merelakan segala kebaikannya kepada kami selama kami mengabdi di Equator. Hanpir tiap malam Bang Jun mesan nasi Melda buat kami. Dan bagi saya pribadi kebaikan itu akan selalu saya ingat selama saya berkelana di dunia fana ini.
Di pertemuan itu juga Bang Jun berjanji menyelesaikan apa-apa saja yang menjadi hak kami. Dan saya pribadi semuanya sudah tuntas. Uang pesangon sudah saya terima. Terima kasih bang.
Tapi lagi-lagi diluar dugaan saya, pertemuan itu berakhir dramatis. Saat kami pamitan dan salaman Bang Jun tiba-tiba terisak menanggis. Dengan bercucuran air mata ia menyalami dan memeluk kami satu persatu. Bahkan air matanya sempat membasahi pipi kiri saya. Kami pun pamit. “Selamat tinggal Equator.” Ilmu dan segala jasa Bang Jun akan selalu kami kenang. Berkat tempaan Bang Jun lah yang membuat kami jadi berarti.
Itulah sekelumit pengalaman terindah dan berharga yang saya dapat dari Harian Equator, Jawa Pos Grup yang terbit di Pontianak. Mosi karyawan berbuah pemecatan empat redaktur.

***



KESEPIAN. Setelah kami resmi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan Equator, saya masih bolak-balik ke kantor Equator mengurus administrasinya.
Di lantai II, Lina yang selama ini menjadi sekretaris redaksi tidak bisa menahan sedih. “Kantor sepi tidak ada abang-abang, Lina benci dengan mereka yang menganggap dirinya pahlawan,” kata Lina lirih.
Kesedihan juga tidak hanya dirasakan Lina, tapi juga mbak Vero, Rika, Yanti dan tentu saja kepala bagian keuangan, Julia.
Tapi saya lihat Lina yang paling terpukul dengan keluarnya kami. Pun demikian dengan Kabag Iklan, Kamaruddin. “Tampang begini yang mau membesarkan Equator, tulisan saja belum genah,” celotah Kamaruddin kepada saya. Namun saya menanggapi kegundahan Kamaruddin itu dingin saja. Saya sengaja tidak mau menunjukkan kesedihan kepada mereka.
Kata Kamaruddin lagi, sebenarnya Equator ini sudah karam. Kalian inilah sebenarnya yang membesarkan Equator. “Aku tidak banyak berharap dengan mereka ini, entah apa aku masih bisa bertahan atau tidak,” ujarnya lagi.
Memang pasca keluarnya kami, suasana kantor jauh berubah. Tidak ada lagi rapat para redaktur yang digelar setiap hari Senin untuk membahas berita maupun permasalahan kantor.
Redaktur ‘dadakan’ itu menugaskan wartawan dengan gaya opspek. Bila tidak dapat berita wartawan dibentak. Padahal kerja wartawan itu kerja intelektual. Bagaimana jadinya bila wartawan diperlakukan seperti anak kecil?
Sesaat saya tidak bisa berfikir. Zaman kami aja yang memperlakukan wartawan sebagai teman hasil karyanya masih jauh dibawah standar. Karya intelektual tidak bisa baik bila dikerjakann dalam suasana tekanan.
“Kantor sekarang jauh berubah. Saya tidak mau tahu lagi urusan di atas, saya kerja di bawah saja. Di atas orangnya mana mau peduli dengan kita pegawai rendahan kayak begini,” kata Ucok saat ngopi bersama saya di depan swalayan Kaisar.
Sekarang kerja bidang masing-masing. Kalau tidak perlu benar rasanya malas ke atas (lantai III redaksi, red).
Ucok yang dulunya rajin membersih piring dan gelas di dapur bila Na’en tidak masuk atau sakit, mengaku tidak pernah lagi mengerjakannya. Menyapu lantai hanya sekali-sekali saja. Itu pun sudah terpaksa karena Na’en tak masuk. Kadang mbak Vero yang mengerjakannya. “Saya mau ke atas dan kerja apabila melihat kantor dah terlalu kotor. Dulu penuh kehangatan, sekarang lebih menonjol individu ketimbang kebersamaan,” kata Ucok pilu.


***




TAK SENGAJA JADI WARTAWAN. Saya menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP-UNTAN) Pontianak, Desember 1997. Dan wisuda 11 Februari 1998.
Tiga bulan setelah diwisuda, saya pulang kampung membuka Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Tapi sebelumnya, saya juga sempat melamar di PT Kalimantan Oleo Industri (KOI), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Nanga Mahap (kini wilayah Kabupaten Sekadau), namun tidak ada panggilan.
Lalu saya membulatkan tekad membuka PETI di hulu sungai Sekadau tepatnya di sungai Kenunai, dusun Nyonak, Kecamatan Nanga Mahap. Setelah tiga bulan kerja, saya pergi ke Pontianak sambil menjual emas dan membeli barang kebutuhan untuk kerja kembali.
Saya lupa bulan dan tanggalnya, tapi yang jelas saya sampai di Pontianak hari Kamis sore dan langsung nginap di Asrama Mahasiswa Bruder MTB (Asrama Sepakat) Jalan A Yani Gang Sepakat II. Saya sempat tiga tahun lebih tinggal di asrama itu, tepatnya di unit Filipus. Di unit Filipus kami delapan orang, saya, Yosef Arif Gunawan, Pitter Bonis, Heri Adiwijaya, Amon, Abdias, Florentinus Rosli dan Juliat.
Walau berasal dari berbagai daerah dan kabupaten se-Kalimantan Barat, kami hidup seperti keluarga. Kami saling membantu terhadap teman yang kekurangan, terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kami tidak segan untuk merebus sebungkus indo mie dangan kuah banyak dicampur daun ubi lalu makan bersama. Banyak suka duka yang saya dapat di asrama.
Sebetulnya tinggal di asrama bukan barang baru bagi saya. Waktu SMPK Suparna di Senangak, saya tiga tahun di asrama yang diasuh oleh seorang bruder.
Lalu saat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, yakni waktu SMAK Karya di Sekadau, saya juga tinggal di asrama Seminari Menengah Diosesan Sekadau. Jadi soal kehidupan di asrama saya sangat berpengalaman.
Tiba di asrama teman-teman heboh ada lowongan kerja yang diumumkan di Harian Akcaya Pontianak Post. Rosli rekan satu asrama yang memang akrab dengan saya –kini dia sukses sebagai kontraktor dan punya perusahaan sendiri di Kabupaten Bengkayang.
Belum sempat saya istirahat, ia mengabarkan kepada saya bahwa dia mau melamar jadi wartawan. Dia minta saya mengantarnya ke hotel Mahkota, besok. Saya pun mengiyakan permintaan Rosli saat itu.
Menurut Rosli, berdasarkan pengumuman di koran (Akcaya, red) akan terbit Harian SUAKA di Pontianak. Harian itu jelas butuh banyak pengawai, mulai dari wartawan, iklan, pemasaran, sirkulasi maupun tenaga administrasi termasuk keuangan.
“Ini peluang tok, ikutlah melamar siapa tahu diterima,” kata Rosli kepada saya kala itu.
Saya pun menanggapinya dingin. Pikir saya, percuma saya melamar kerja, toh saya sudah ada kerjaan sebagai pengusaha PETI. Dan saya pun hanya menyambut saran Rosli dengan senyuman seraya mengangguk-anggukan kepala.
Jumat pagi, Rosli sudah siap dengan map lamarannya. Saya mandi lalu sarapan indo mie instan pagi itu. Abis sarapan saya memanaskan motor Shogun dan bersiap-siap mengantarkan Rosli menuju ke hotel Mahkota untuk memasukan lamarannya.
Tiba di hotel sekitar pukul 09.30 WIB, saya lihat antrian sepanjang 10 meter dalam dua baris. Karena masih antri, saya ngajak Rosli mutar-mutar dulu sambil mencari barang kebutuhan saya.
Sekitar pukul 13.00, kami kembali ke hotel Mahkota lagi. Saat Rosli mengikuti antri memasukan lamaran, tiba-tiba muncul Vincent Julipin – kenalan saya, dari balik kamar menyapa saya yang berdiri dekat tangga di lantai II hotel Mahkota. “Eh Tok, masukan lamarankah?”
Jawab saya: “tidak, saya hanya antar Rosli mau melamar jadi wartawan”.
Lalu kata Julipin: “mengapa tidak melamar sekalian? ini kesempatan, mumpung kami banyak cari wartawan”. “Sudah selesaikan kuliahnya?” tanyanya
“Saya lagi ada kerjaan lain pak”.
“Kerja apa?” tanya Julipin lagi.
“Kerja emas pak” jawab saya.
“Oh itu merusak lingkungan,” kata Julipin lagi.
Di tengah percakapan itu, Rosli selesai memasukan lamaran namun masih ada yang kurang dan harus diselesaikan besoknya (Sabtu, red), sebab itu adalah hari terakhir penyerahkan berkas. Karena hari Senin nama-nama yang lulus sudah harus diumumkan di koran.
Selain Julipin, rekan saya Rosli juga minta saya memasukan lamaran. “Eh besok hari terakhir, masukkanlah lamaran. Siapa tahu dipanggil,” saran Rosli.
Namun saran itu tak saya gubris, sebab tak ada sedikit pun di benak saya mau jadi wartawan.
Keesokan harinya saya kembali mengantar Rosli ke hotel Mahkota. Di hotel saya lihat Julipin dan Aju yang menerima lamaran Rosli. Aju tidak begitu kenal dengan saya, tapi saya tahu dia wartawan Mingguan Hidup dan Majalah Duta. Saya sering membaca artikelnya. Sedangkan Julipin wartawan Suara Pembaruan yang ditugaskan di Kalimantan Barat. Ia juga dipercaya sebagai koordinator liputan Kalimantan.
Julipin sebelumnya wartawan Harian Akcaya dan pernah menjadi kepala Biro Akcaya di Singkawang.
Selain Julipin, Aju juga menyarankan agar saya memasukan lamaran di Suaka. Saat Rosli sibuk, diam-diam saya membuka dompet mencari pas photo. Kebetulan di dompet saya ada pas photo yang ukurannya sesuai persyaratan yang diminta panitia.
Pikiran saya seketika berubah. Saya coba mengikuti saran Pak Julipin. Itu mungkin baik dan saya mencoba menurutinya. Saya pun bergegas ke halaman parkir dan membuka jok motor saya. Sebab di situ masih ada sisa photo copy ijazah, transkip nilai, kartu tanda penduduk dan curriculum vitae serta kertas folio. Saya pun menulis surat lamaran di jok motor di parkiran hotel Mahkota.
Usai menulis lamaran, saya merapikan berkas sesuai persyaratan yang diminta, lalu naik ke lantai II hotel Mahkota dan menyerahkan lamaran itu ke bagian penerimaan lamaran. Setelah dicek satu persatu oleh seorang wanita cantik yang tidak saya kenal, ternyata lamaran saya dinyatakan lengkap. Seandainya masih ada yang kurang, pasti tak dapat dikejar lagi, sebab itu hari terakhir memasukan lamaran.
Jujur, setelah memasukan lamaran itu, saya tidak pernah memikirkannya. Sebab pikiran saya masih di lokasi tambang emas di sungai Kenunai. Apalagi waktu itu masih puncak-puncaknya orang kerja emas.
Senin pagi, Rosli buru-buru pergi ke aula Asrama Sepakat mencari koran Akcaya (kebetulan asrama berlangganan Akcaya). Saya masih menikmati secangkir kopi di ruang tengah unit Filipus. Saya lihat Rosli berlarian membawa koran ke arah saya. “Tok kamu dipanggil, kamu lulus,” ujarnya.
Saya pun menyambutnya dengan dingin. “Ah masak sih Ros, kemarin kan asal jak saya buat lamaran tu,” jawab saya. Rosli pun melempar koran ke arah saya, ternyata benar saya dipanggil.
Sesuai jadwal, hari Senin kala itu saya memenuhi panggilan itu. Tidak ada persiapan yang istimewa. Saya hanya berpakaian rapi dan di saku baju saya terselip sebuah pulpen.
Sebetulnya saya masih terbebani karena mesin dompeng saya masih di dalam hutan. Apalagi waktu itu komunikasi susah, belum ada hand phone. Dalam hati saya bergumam moga-moga dua anak buah saya di lokasi bisa bekerja dan menjaga mesin yang ada.
Dengan pikiran yang tidak terlalu fokus saya mengikuti tes tulis dan wawancara. Tes tulis lebih banyak soal akademis. Dan itu tidak masalah bagi saya, karena ingatan masih segar. Maklum baru selesai kuliah.
Tapi ketika tes wawancana, materinya seputar kepribadian saya. Mulai dari orang tua, keluarga, lingkungan dan pribadi saya sendiri di kupas satu-persatu. Dan yang mereka tanya dengan saya berkali-kali adalah soal kejujuran dan sikap saya terhadap suatu masalah.
Orang yang mengetes wawancara saya bukan orang sembarangan, seperti Zinuddin Isman (mantan Kepala Biro Kompas di Pontianak), Ronald Luntungan (Majalah Tempo) Saiful W Harahap (Suara Pembaruan) Eric M Dajoh (Mantan Pimred Manado Post) dan terakhir Vincent Julipin (Suara Pembaruan).
Tes-tes berikutnya, termasuk praktek lapangan saya lewati dengan mulus. Dan saya pun berhak mengikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh panitia penerimaan wartawan Suaka.
Maka sejak saat itulah saya mengubah nasib saya dari pengusaha PETI banting stir ke jurnalistik. Sebetulnya menjadi wartawan bukanlah cita-cita saya. Tidak ada sedikit pun di benak saya untuk menjadi wartawan.
Malah ketika masih kuliah saya bercita-cita jadi pegawai negeri. Pegawai negeri adalah harapan orang tua mana pun juga. Sementara jadi wartawan bagi saya adalah sesuatu hal yang tidak disengaja, tepatnya boleh dikatakan kecelakaan. Anehnya kini saya justru menikmati profesi sebagai wartawahn, terlebih setelah bergumul dengan berbagai kasus dan peristiwa, termasuk tempaan para wartwan terbaik di negeri ini.
Apalagi sekarang pola pikir saya sudah benar-benar berubah. Wartawan bukan lagi karena ketidaksengajaan, tapi suatu keharusan untuk menembus batas-batas yang selama ini belum terjangkau. Menjadi wartawan betul-betul membuka cakrawala saya dan yang lebih menyenangkan saya bisa bergaul dengan siapa saja mulai dari kelas atas, menengah dan kelas bawah sekalipun.

***

Suaka Sebagai Batu Loncatan


SEBELUM BEKERJA di Harian Equator Pontianak (Jawa Pos Grup), saya sudah bekerja sebagai koresponden Majalah Berita Mingguan (MBM) GAMMA di Jakarta. Pernah juga jadi freelance Majalah FORUM Jakarta. Saya bergabung dengan MBM GAMMA sejak tahun 1998-2001.
Tapi sayang, majalah yang berkantor di Gedung Twink Jalan Kapten P Tandean No. 82 Jakarta itu dalam perjalanannya terseok-seok dan akhirnya mati di tengah persaingan media yang bak jamur tumbuh di musim hujan.
Beda dengan sebelum reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa, media atau surat kabat maupun majalah hanya dapat dihitung jari saja. Itu pun tumbuh tidak sehat. Pemerintah Orde Baru (Orba) dengan Presiden Soeharto sebagai simbolnya sangat alergi dengan media yang independent dan kritis.
Bila ada media yang berani coba-coba mengkritisi kebijakan pemerintah atau mengkritik pejabat tertentu, maka si penguasa tak segan-segan membredel media tersebut.
Majalah TEMPO buktinya. Zaman Soeharto majalah ‘timenya’ Indonesia itu sudah dua kali mengalami pembredelan. Pertama tahun 80-an dan ke pembredelan (penutupan) kedua tahun 1994. Belum lagi majalah lain seperti EDITOR dan sebagainya.
Tapi sejak rezim Orba ditumbangkan era reformasi, bisnis media tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Momentum itu dimanfaatkan para pratisi media maupun mereka yang sudah bekerja namun ingin tantangan baru, seperti Herry Komar, Kumala Atmojo, Budiman S Hartoyo (mantan punggawa majalah TEMPO), Mastum Madsum (Jawa Pos Grup) mendirikan MBM GAMMA. GAMMA sebetulnya pecahan majalah GATRA yang merupakan inkarnasi majalah TEMPO.
Rupanya nama besar orang-orang yang mengawangi majalah GAMMA ditambah pula reporter yang profesional hasil bendol desa dari majalah GATRA. Dan tidak sedikit jebolan majalah TEMPO, ternyata tidak menjamin GAMMA langgeng.
Sebelum menjadi koresponden media nasional, saya pertama kali mengenal dunia jurnalistik justru di koran lokal yakni di harian “SUAKA” (Suara Kalimantan Barat) yang pendiriannya diprakarsai salah seorang pengusaha nasional asal Kalimantan Barat, H Oesman Sapta Odang (OSO).
Di harian yang sempat menjadi harapan sekaligus ancaman koran-koran Jawa Pos Grup di Pontianak (Akcaya Pontianak Post) waktu itu—tidak dikelola dengan manajemen yang benar.
SUAKA terbit hanya untuk kepentingan jangka pendek—kepentingan politik sang pemilik modal. Artinya, segala arah kebijakan dan pemberitaan dikendalikan untuk kepentingan big boss.
Walau korannya terbit hanya seumur jagung, tapi cukup memberi pemahaman jurnalis yang sesungguhnya bagi saya.
Bahkan baru tiga bulan saya gabung di SUAKA, saya sudah dipercaya Redaktur Pelaksana (Vincent Julipin) dan para redakturnya untuk menempati Biro Singkawang (satu-satunya biro Suaka di Kalimantan Barat).
Di Biro Singkawang, tugas saya rangkap. Mulai dari mengurusi peliputan (berita) sampai pada masalah pemasaran koran, iklan dan sebagainya.
Saya merasa beruntung, penempatan saya sebagai kepala Biro SUAKA di Singkawang justru menjadi batu loncatan saya ke media nasional. Dari situ pulalah secara tak sengaja saya menjadi koresponden media nasional.
Waktu itu, terjadi peristiwa kerusuhan sosial di Kabupaten Sambas—perang antara Melayu Sambas melawan Madura.
Perang yang berujung pada “pembersihan” (pengusiran) etnis Madura di Kabupaten Sambas, kecuali Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang (kedua daerah ini sebelum pemekaran bergabung dengan Kabupaten Sambas) itu betul-betul menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Selain berkenalan dengan wartawan nasional maupun internasional, saya juga dapat belajar bagaimana menjadi wartawan sesungguhnya.
Wartawan-wartawan profesional tersebut menunjukkan cara kerja yang baik bagaimana cara meliput di wilayah konflik maupun cara-cara mencari data, fakta maupun menembus sumber yang sulit sekalipun.
Bukan hanya itu, beberapa wartawan nasional maupun asing menjadikan saya kontak person soal perkembangan kerusahan Sambas dari hari ke hari.
Tak jarang tengah malam Bang Sarluhut Napitupulu (wartawan GATRA) menelepon mempertanyakan perkembangan kerusuhan Sambas.
Demikian juga dengan rekan-rekan di BBC London, Radio Nederland maupun Radio Australia. Senang rasanya mereka menghargai informasi yang saya berikan.
Enam bulan kemudian, memasuki awal tahun 1999 setelah reformasi Bang Sarluhut mengajak saya bergabung dengan majalah GAMMA. Mereka ‘cerai’ dengan majalah GATRA gara-gara pemberitaan kredit macet Bank Umum Nasional yang melibatkan pemilik GATRA Bob Hasan.
Dalam perjalanan selanjutnya, saya dipercaya sebagai Kepala Biro GAMMA di Pontianak. Dan Bang Luhut—panggilan akrabnya, ditarik ke kantor pusat di Jakarta sebagai redaktur nasional, hukum dan kriminalitas.
Jalan tiga tahun, majalah GAMMA mulai mengalami kesulitan keuangan. Penyebabnya, selain susah bersaing dengan majalah lain (TEMPO terbit kembali), saudara tuanya GATRA dan tentu saja FORUM maupun GARDA. Juga krisis yang melanda bangsa ini semakin parah.
Bahkan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpaksa lengser dari kursi RI-1 dan digantikan wakilnya, Megawati Soekarno Putri. Hanya gara-gara skandal Suwondo sang tukang pijatnya yang korupsi hingga Rp 34 miliar.
Pertengahan 2001, majalah GAMMA mulai mengalami kesulitan keuangan. Bahkan untuk terbit saja para punggawanya harus nombok sana-sini. Berkumpulnya orang-orang hebat dan kenyang makan asam garam media, ternyata tidak menjamin majalah GAMMA langgeng dan bisa bersaing dengan majalah berita mingguan lainnya.
Kondisi demikian, saya tidak mungkin berpangku tangan. Apalagi sejak Juli 2000, saya menikah dengan pacar saya, Indri Handayani. Dan 11 Januari 2001 lahir anak pertama kami: Fidellis Cesare Castro (Ecal).
Memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga serta saran dari teman-teman, terutama Bang F Lamhot Sihotang (wartawan FORUM), Bang Janes Eudes Wawa (Kompas) dan Bang Otie (pimpinan PT Benua Indah Group) saya disarankan gabung dengan Harian Equator. Kebetulan Equator masih butuh tenaga pasca eksodusnya sejumlah wartawan dan redaktur ke Akcaya Pontianak Post.
Saran bos lantai III (sebutan untuk Bang Otie) serta rekan-rekan senior yang menjembatani saya dengan Bang Jun, saya terima dan laksanakan dengan senang hati.
“Daripada susah, bagus kau bantu Bang Jun jak di Equator, kasihan dia kerja sendiri,” saran Bang Otie waktu itu yang langsung disambungkan Bang Lamhot dengan Bang Jun.
Keesokan harinya saya diminta Bang Jun ketemu di rumahnya. Saya sampai di rumahnya Jalan Parit Haji Husien II, Kompleks Alex Griya I No. B-12, sekitar pukul 09.00 WIB. Ketika itu, Bang Jun tengah memberi makan burung—hewan peliharaan.
Oleh Bang Jun, saya diminta tunggu sebentar di ruang tamu. Setelah bersalaman dan bincang-bincang sedikit, dia kembali masuk mengambil koran Equator dan Ap Post. Lalu dia membandingkan dua Koran itu di depan saya. “Butuh kerja keras agar Equator bisa lebih baik dari Pontianak Post,” komentarnya waktu itu.
Di mata saya sosok Bang Jun ketika pertama kali bertemu di rumahnya itu, adalah sosok yang baik, sopan dan murah senyum. Pikir saya waktu itu, inilah sosok pemimpin yang baik. Tidak salah bila saya bergabung dengannya.
Dia sosok orang sukses. Mulai dari koresponden majalah TEMPO sampai bisa sukses dengan rumah yang mentereng. Untuk ukuran wartawan, rumah Bang Jun tergolong mewah. Letaknya di lokasi strategis, arsiteknya modern. Ia memang pantas memimpin sebuah surat kabar, pikiran saya menerawang.
Saya tidak perlu memulai pembicaraan, Bang Jun sudah tahu maksud kedatangan saya; kami pun langsung membicarakan masalah pers dalam arti luas, termasuk prospek Equator ke depan. Bang Jun menyakinkan saya bahwa Equator punya prospek untuk berkembang dan punya masa depan.
Dia sempat menyinggung keluarnya Bang Haji Holdi cs, karena barisan sakit hati. Dia katakan mereka tidak suka dengan dirinya memimpin Equator. Saya hanya mendengarkan tanpa sedikitpun mengomentarinya.
Singkat cerita, setelah pertemuan pagi itu, Bang Jun minta saya masuk pada malam harinya.
Tepat tanggal 18 Agustus 2001 malam saya masuk kerja pertama kali di Harian Equator yang berkantor di lantai III Ruko Jalan Nusa Indah Blok B-62 Pontianak.
Pada hari yang sama di bagian pracetak masuk pertama kali juga Atika Rahmadani. Saya sempat diperkenalkan Bang Zailani Kasno dengan Tika malam itu. “Kalian sama-sama baru masuk malam ini, Tika di pra cetak dan kamu, Tanto redaktur Liga,” perkenalan singkat Bang Zailani yang populer disapa paman.
Saya tidak kikuk naik ke kantor Equator, sebab sebelumnya saya sudah beberapa kali bertandang ke kantor Equator bersama Bang Ganis. Ganis adalah EDP Pontianak Post. Bila jaringan atau internet di Equator macet, dia selalu diminta bantu oleh Bang Jun untuk membetulkan jaringan internet di Equator.
Saya mengirim berita ke ajalah GAMMA pakai internet. Karena masih “buta” internet saya sering minta bantu Bang Ganis atas rekomendasi Bang Sarluhut Napitupulu redaktur saya di Jakarta.
Sebelum ditarik ke Jakarta, Bang Luhut memang akrab dengan Ganis, mereka sama-sama aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Pontianak. Bila hendak kirim berita dan kebetulan mesin facimili saya macet, saya pasti mencari Bang Ganis. Bila tengah memperbaiki internet di Equator, saya langsung menyusul Ganis di Equator dan Bang Ganis pun mengirim naskah saya lewat internet di Equator.
Sejak saat itu saya mulai membiasakan diri kerja di harian. Walau agak kikuk karena latar belakang saya majalah mingguan, saya berusaha menyesuaikan diri dengan harian, karena di harian inilah tempat saya mencari nafkah, pikir saya waktu itu.

***


NIAT BERHENTI. Bulan-bulan pertama saya hampir mengundurkan diri. Saya merasa irama kerja harian beda dengan kebiasaan saya di majalah mingguan.
Kita harus berlomba dengan waktu. Lagian model penulisan, beda. Sudah bertahun-tahun saya terbiasa kerja dengan bimbingan tor dari redaktur.
Suasana itu tampak pada hasil kerja saya. Bahkan saya sempat ditegur rekan Andi Muzzammil (almarhum), terkait dengan kinerja saya yang dinilai belum optimal.
Suasana kerja yang belum “nyaman” itu hampir membuat saya putus asa. Tapi beruntung Redpel (Nur Iskandar) minta saya bersabar dan menyesuaikan diri dengan format harian.
Hari-hari selanjutnya, saya mulai betah. Bahkan menjelang pergantian tahun dan moment Hari Raya Natal, teman-teman kantor sangat antusias berkunjung ke rumah saya. Kebetulan Natal waktu itu bersamaan dengan bulan Ramadan. Jadi rekan-rekan yang berpuasa bisa langsung sahur di rumah saya.
Momen indah inilah yang membuat saya semakin betah kerja di Harian Equator. Apalagi Redpelnya sangat moderat. Saya rasa inilah “rumah” yang tepat untuk saya bekerja.
Pikir saya waktu itu, Equator sangat menjanjikan baik dalam membina karier maupun tempat mencari penghasilan.
Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun dilalui dengan indah bersama rekan-rekan se-kantor. Tidak ada perbedaan agama, suku maupun asal-usul.
Kami beranggapan apapun ciptaan Tuhan baik adanya. Jadi kami tidak pernah lagi mempersoalkan siapa, apa dan dari mana kamu.
Yang menjadi mimpi kami, Equatorlah miniatur nusantara di Pontianak.
Mulai dari divisi redaksi, pemasaran, iklan, pracetak maupun keuangan terdiri dari berbagai etnis dan agama.
Ada Melayu, ada Dayak, Madura, Bugis, Jawa maupun Tionghoa kumpul di Equator. Kami bahu membahu membangun Equator. Puncaknya oplah Equator sempat mencapai 17 ribu eksemplar. Itu prestasi yang luar biasa yang lahir dari tangan anak-anak muda.

***


BANGUN KEBERSAMAAN. Tanggal 25 Agustus 2003, saya diangkat menjadi pegawai organic (pegawai tetap). Status pegawai tersebut semakin memotivasi saya untuk mengembangkan Equator.
Mulai dari pembenahan berita (editing), melobi dan membuat jaringan dengan para tokoh Dayak, Gereja maupun CU (Credit Union) hingga menjajaki kerjasama halaman (kontrak halaman) dengan Pemkab Melawi, Sintang dan Landak.
Kontrak halaman yang sempat tidak disetujui Bang Jun ternyata sangat membantu dalam perkembangan perusahaan. Karena dari kontrak halaman dengan Pemkab itu, mengalir dana segar ke kantong perusahaan. Dan kontrak halaman itu hampir dilakukan di seluruh kabupaten/ kota se-Kalbar.
Dalam membangun dan membesarkan Equator, selalu kami lakukan dengan kebersamaan.
Kami para redaktur sampai larut malam rapat menyusun strategi baik pemberitaan maupun komponen lainnya demi membesarkan Equator—Koran yang dibangga-banggakan sebagai koran reformasi pertama di Kalimantan Barat itu.
Rasanya tiada hari tanpa rapat perencanaan untuk membesarkan Equator. Dan kebersamaan itu tidak hanya tercermin dari latar belakang dan asal usul karyawannya saja, tapi dalam banyak hal selalu diputuskan bersama dalam Sidang Dewan Redaksi.
Dalam kepemimpinan Nur Iskandar selaku Redpel, tidak ada sesuatu hal yang diputuskan sendiri, tapi selalu diputuskan dalam rapat Dewan Redaksi secara bersama-sama.
Nur Iskandar betul-betul memanfaatkan dan memfungsikan Sidang Dewan Redaksi dalam memecahkan setiap ada permasalahan maupun rencana pengembangan perusahaan.
Dengan rutinnya rapat redaksi, maka selalu muncul hal-hal baru. Baik yang sifatnya menghambat kemajuan perusahaan maupun hal-hal yang mendukung membesarkan perusahaan.
Pun termasuk lahirnya 9 poin mosi itu dari rapat redaksi sekaligus rapat bisnis yang sebetulnya sangat disarankan “Bos Jun” yang senang disapa Pak Bos (pak bos ini sebetulnya sebutan karyawan Jawa Pos untuk Dahlan Iskan).

***


MENGALIR TAWARAN. Lepas dari Equator, ternyata tidak membuat kami frustrasi. Buktinya tawaran mengalir kepada kami. Mulai dari orang-orang kepercayaan Osman Sapta yang akan menghidupkan kembali Harian Suaka, Kompas hingga Pontianak Post sendiri.
Tapi setiap tawaran selalu kami cerna secara bersama-sama. Pertimbangkan untung-ruginya. Kami tidak mau lagi terperosok ke lubang untuk kedua kalinya. Apakah itu datang dari Pontianak Post termasuk Kompas sekalipun.
Kebersamaan dan rasa senasib dan sepenanggungan terpatri betul dalam diri kami berlima. Hampir setiap malam kami mendiskusikan ke masa masa depan kami dari rumah satu ke rumah yang lainnya.
“Diskusi dari rumah ke rumah ini ada maksud dibaliknya. Selain menunjukkan kebersamaan diantara kami, kami ingin membagikan ‘penderitaan’ kami dengan keluarga kami masing-masing. Jadi mereka tidak hanya sekedar mendengarkan cerita, tapi juga turut mengalami lewat pendengaran di diskusi kami itu”.
Di tengah mengalirnya tawaran dari berbagai pihak, kami membuat komitmen. Tetap satu apa pun yang terjadi.
Rupanya kekompakan kami itu mencuri perhatian pengusaha lokal. Mereka berani invest untuk mendirikan koran baru yang pengelolaannya dipercayakan kepada kami.
Ide terakhir ini lebih menarik perhatian kami. Untuk apa terima media besar, sementara kita tidak punya kebebasan untuk berkreasi.
Mulai akhir Desember 2006, kami mulai intensif melakukan rapat persiapan untuk mendirikan koran baru tersebut. Koran itu kami beri nama “Borneo Tribune”. Langkah awal untuk mengawakkannya, saya diberangkatkan ke Jakarta selama dua minggu untuk mengikuti pendidikan di Yayasan Pantau. Di sana saya mendalami Jurnalis Sastrawi, yakni genre baru dalam dunia jurnalistik.
Linda Christanty yang juga Pengampu Pantau mengatakan, gaya tulisan tidak hanya memikat, tapi panjang, dalam dan terasa.
Kelak gaya penulisan ini yang akan diterapkan di media baru tersebut.
Awalnya saya pribadi masih kabu-kabu alias belum jelas dengan keseriusan mendirikan Borneo Tribune. Tapi keraguan itu sirna seketika setelah owner mendatangkan mesin cetak jenis web ke Pontianak. Kini mesin yang dipasang di kawasan Purnama itu sudah siap dioperasikan. Bahkan rekrutmen karyawan sudah dilakukan dengan pemasangan iklan di harian Pontianak Post, Sabtu 24 Maret 2007.
Sebentar lagi lahir Koran baru dengan segmentasi pasar menengah ke atas. Nantinya Koran ini akan menjadi media alternatif bagi para pembacanya, terutama dari kalangan mengusaha, akademisi maupun orang-orang yang berduit. “Inilah Koran daerah yang berkualitas yang aman dibaca keluarga maupun kalangan pendidik. Sebab media ini digawangi orang-orang yang berpengalaman di bidang media, terutama harian Equator, Jawa Pos Grup di Pontianak”. Yach, itulah sepotong cerita tantang Tanto yang dipecat dari Equator, karena memperjuangkan perbaikan manajemen dan kesejahteraan karyawan. Jadi ini semua berawal atau bermula dari "garis Equator".




*) Tanto Yakobus, mantan wartawan Majalah Berita Mingguan GAMMA Jakarta, Redaktur Harian Equator Pontianak yang “diwisuda” Djunaini KS. Alumnus Jurnalis Sastrawi (JS) angkatan XI di Yayasan Pantau Jakarta. Kini bersama empat mantan Redakrur Harian Equator mendirikan koran baru, Harian Borneo Tribune.

***

2 komentar:

satu kata
""SALUT""

13 Mei 2008 19.05  

salut

7 Januari 2009 23.25  

Posting Lebih Baru Beranda